Loading...

  • Minggu, 26 April 2026

Perjuangan Panjang MIN 9 Asahan Hadirkan Becak Motor Antar Jemput Siswa Pesisir

Perjuangan Panjang MIN 9 Asahan Hadirkan Becak Motor Antar Jemput Siswa Pesisir
Pematang Sei Baru (Humas). Setelah melalui proses yang panjang sejak awal Tahun 2023, MIN 9 Asahan akhirnya menerima satu unit becak motor sebagai sarana antar jemput siswa. Becak ini diserahkan oleh Kepala MIN 9 Asahan sebelumnya, Dr. H. Hadi Rafitra Hasibuan, S.Ag., M.A, dan diterima oleh pihak madrasah yang diwakili guru senior Alimuddin, S.Pd.I. Fasilitas transportasi ini diharapkan menjadi jawaban atas kesulitan yang selama ini dihadapi anak-anak pesisir Tanjung Balai untuk bisa bersekolah di madrasah. Wujud Kolaborasi dan Kepedulian untuk Pendidikan Anak Pesisir

Semangat Awal dari Seorang Pemimpin. Perjalanan menghadirkan becak motor ini dimulai pada Tahun 2023, saat Dr. Hadi Rafitra baru saja ditugaskan sebagai Kepala MIN 9 Asahan. Dengan semangat besar, ia datang membawa tekad untuk menghadirkan perubahan nyata bagi pendidikan anak-anak pesisir yang selama ini terhambat akses, fasilitas, dan keterbatasan sarana pendukung.

Setibanya di madrasah, Hadi Rafitra langsung meninjau lingkungan sekolah serta berdialog dengan dewan guru mengenai kondisi sosial masyarakat, akses jalan, hambatan guru, serta tantangan transportasi siswa. Berbagai masukan tersebut membangkitkan keprihatinan sekaligus tekadnya untuk membangun MIN 9 Asahan menjadi madrasah yang lebih maju dan layak.

Upaya Awal Membangkitkan Minat Masyarakat. Hanya tiga bulan setelah menjabat, Hadi Rafitra menggelar Festival Anak Sholeh (FAS) 2023 sebagai langkah awal menarik perhatian masyarakat. Festival ini berlangsung meriah dengan hadiah menarik bagi para juara. Bahkan, peserta yang belum berhasil meraih juara tetap mendapatkan bingkisan dan sertifikat penghargaan.

Meski kegiatan ini mendapat sambutan baik dan jumlah peserta cukup banyak, minat orang tua untuk memasukkan anaknya ke MIN 9 Asahan masih belum sesuai harapan. Dari sinilah Hadi Rafitra menyadari bahwa persoalan yang dihadapi madrasah jauh lebih mendasar daripada sekadar promosi kegiatan.

Banjir, Akses Jalan, dan Tantangan Infrastruktur. Secara geografis, MIN 9 Asahan berada di wilayah pedalaman pesisir yang kerap terendam banjir akibat hujan deras maupun air laut pasang. Kondisi ini membuat akses menuju madrasah sulit dilalui, bahkan berisiko bagi keselamatan siswa dan guru. Akibatnya, madrasah ini selama bertahun-tahun kurang mendapat perhatian pembangunan karena dinilai memiliki akses yang tidak memadai.

Namun, perjuangan tidak berhenti. Pada tahun 2024, berkat kegigihan Hadi Rafitra dan dukungan keluarga besar MIN 9 Asahan, madrasah akhirnya mendapatkan rehab berat sebanyak tiga ruang kelas. Perubahan tersebut disambut dengan penuh rasa syukur oleh masyarakat sekitar.

Di masa kepemimpinan Hadi Rafitra pula, pembangunan jembatan madrasah yang selama ini sudah tidak layak sejak MIN 9 Asahan berdiri akhirnya dapat terealisasi. Jembatan yang lebih kokoh dan aman ini menjadi akses vital bagi siswa, guru, dan masyarakat dalam menuju lingkungan madrasah.

Kunjungan Akademisi UIN Sumatera Utara dan Edukasi Kesehatan. Komitmen membangun madrasah tidak hanya pada aspek fisik dan pendidikan formal. Pada 14 s.d. 15 November 2023, MIN 9 Asahan mendapat kunjungan dari Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara, Prof. Dr. Mesiono, S.Ag., M.Pd, dalam rangka Program Sosialisasi Pelaksanaan Pengabdian Masyarakat oleh Dosen dan Mahasiswa UIN Provinsi Sumatera Utara.

Kegiatan selama dua hari tersebut diisi dengan sosialisasi tentang stunting, yang sangat relevan dengan kondisi masyarakat pesisir. Program ini menambah wawasan guru, siswa, dan orang tua mengenai pentingnya kesehatan, gizi, dan pola hidup sehat sebagai fondasi tumbuh kembang anak.

Perjuangan Menghadirkan Jaringan Internet. Tantangan lain yang dihadapi MIN 9 Asahan adalah keterbatasan jaringan internet. Selama bertahun-tahun, akses internet sangat lemah dan tidak stabil. Bahkan ketika listrik padam, seluruh jaringan komunikasi langsung terputus.

Kondisi ini menyulitkan pekerjaan berbasis daring. Tidak jarang operator madrasah harus keluar dari lingkungan madrasah, mencari titik sinyal hanya untuk mengirim data atau mengerjakan laporan. Melihat kondisi tersebut, Hadi Rafitra berupaya keras menjalin komunikasi dengan berbagai pihak hingga akhirnya jaringan internet bisa masuk ke MIN 9 Asahan, meskipun dengan segala keterbatasan.

Tonggak Sejarah: ANBK Perdana di MIN 9 Asahan. Upaya peningkatan mutu pendidikan juga ditandai dengan keberhasilan melaksanakan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) secara mandiri untuk pertama kalinya pada tahun 2023. Sebelumnya, selama bertahun-tahun MIN 9 Asahan harus menumpang pelaksanaan ANBK di MTsN 2 Kisaran.

Keberhasilan ini menjadi tonggak sejarah sekaligus bukti bahwa MIN 9 Asahan mampu berkembang dan melaksanakan program nasional secara mandiri di bawah kepemimpinan Hadi Rafitra.

Identitas dan Lingkungan Madrasah yang Lebih Layak. Pada tahun yang sama, plank nama MIN 9 Asahan juga akhirnya dibuat dan dipasang. Hal ini menjadi simbol identitas dan keberadaan madrasah yang selama ini kurang dikenal masyarakat luas.

Selain itu, halaman madrasah yang sebelumnya selalu tergenang air dan banjir saat hujan, berhasil diperbaiki. Alhamdulillah, kini halaman tersebut sudah layak digunakan dan menjadi pusat berbagai kegiatan, seperti pentas seni, kegiatan keagamaan, serta pembiasaan membaca Al-Qur’an dan Surah Yasin setiap hari Jumat.

Transportasi Siswa: Masalah Terbesar yang Menyentuh Hati. Meski berbagai kemajuan telah dicapai, persoalan terbesar belum sepenuhnya teratasi, yaitu transportasi siswa. Hadi Rafitra pun turun langsung ke lapangan, mendatangi PAUD dan TK sekitar bersama para guru untuk mendengar langsung keluhan orang tua.

Dari pertemuan tersebut, terungkap kisah yang menyentuh hati. Para wali murid menyampaikan bahwa mereka sangat ingin anaknya bersekolah di madrasah, namun terkendala:
•    Jalan rusak dan jarak yang jauh,
•    Banjir serta pasang air laut yang sering menutup akses,
•    Orang tua tidak dapat mengantar jemput karena harus bekerja (suami melaut sejak malam, istri bekerja pagi hari),
•    Kekhawatiran besar akan keselamatan anak, terlebih pernah terjadi musibah anak tenggelam saat banjir.

Amanah dan Kolaborasi Kebaikan. Setelah melakukan evaluasi dan bermunajat kepada Allah SWT, pertolongan datang dari arah yang tidak disangka. Suami dari Alm. Wiwik Purwanti, S.Pd.I, guru MIN 9 Asahan yang telah wafat, menyampaikan infak untuk pembelian becak motor. Amanah tersebut diserahkan melalui Hadi Rafitra untuk mendukung transportasi siswa.

Dengan penuh haru, Hadi Rafitra bersama dewan guru bergerak mencari becak motor yang layak dan kuat. Rotasi Jabatan, Perjuangan Tak Terputus. Pada 30 Oktober 2025, masa tugas Hadi Rafitra sebagai Kepala MIN 9 Asahan berakhir karena rotasi jabatan. Namun beliau menegaskan:

“Walaupun saya tidak lagi bertugas di sini secara administrasi, saya tetap akan membantu untuk memajukan MIN 9 Asahan jika dibutuhkan.” Pernyataan ini menjadi penyemangat besar bagi seluruh guru dan staf. Negosiasi dan Sinergi Dua Kepala Madrasah. Proses pembelian dilanjutkan oleh Alimuddin, S.Pd.I bersama guru-guru Tien Suhaila, S.Pd.I, Irmayanti Ernita, S.Pd, dan Sri Rahmawati Sinaga, S.Pd.I. Setelah negosiasi, dana yang tersedia ternyata belum mencukupi.

Tanpa ragu, Alimuddin menghubungi dua pemimpin: Dr. Hadi Rafitra Hasibuan dan Syahrial, S.Pd.I selaku Kepala MIN 9 Asahan yang baru. Keduanya langsung memberikan tambahan dana. Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa estafet kepemimpinan tidak memutus perjuangan.

Becak Motor Siap Beroperasi. Alhamdulillah, becak motor akhirnya berhasil dibeli dan siap digunakan mulai semester baru. Sarana ini diharapkan menjadi solusi nyata atas hambatan pendidikan anak-anak pesisir.
Tanggapan Para Pihak
1.    Dr. H. Hadi Rafitra Hasibuan, S.Ag., M.A
“Becak motor ini bukan hanya kendaraan, tetapi amanah dan wujud kasih sayang kita kepada anak-anak pesisir.”
2.    Syahrial, S.Pd.I (Kepala MIN 9 Asahan)
“Ini adalah buah dari perjuangan panjang dan kolaborasi semua pihak.”
3.    Alimuddin, S.Pd.I
“Saya menyaksikan sendiri proses panjang ini. Kebersamaan adalah kuncinya.”
4.    Toyba Rizqoh, S.Sos (Dewan Guru)
“Semoga ini menjadi awal perhatian yang lebih besar bagi MIN 9 Asahan.”

Harapan untuk Masa Depan. Kehadiran becak motor ini diharapkan menjadi pemantik perhatian pemerintah terhadap kondisi madrasah, khususnya perbaikan akses jalan. Perjuangan panjang MIN 9 Asahan menjadi bukti bahwa ketika kepedulian, doa, dan usaha bersatu, Allah SWT akan menghadirkan jalan terbaik bagi pendidikan anak-anak pesisir. (fa)


Tentang Penulis
Penulis di Kemenag Asahan Sejak 13 May 2024
Lihat Semua Post