Perjuangan Panjang MIN 9 Asahan Hadirkan Becak Motor Antar Jemput Siswa Pesisir
Pematang Sei Baru (Humas). Setelah melalui proses
yang panjang sejak awal Tahun 2023, MIN 9 Asahan akhirnya menerima satu
unit becak motor sebagai sarana antar jemput siswa. Becak ini diserahkan
oleh Kepala MIN 9 Asahan sebelumnya, Dr. H. Hadi Rafitra Hasibuan,
S.Ag., M.A, dan diterima oleh pihak madrasah yang diwakili guru senior
Alimuddin, S.Pd.I. Fasilitas transportasi ini diharapkan menjadi jawaban
atas kesulitan yang selama ini dihadapi anak-anak pesisir Tanjung Balai
untuk bisa bersekolah di madrasah. Wujud Kolaborasi dan Kepedulian
untuk Pendidikan Anak Pesisir
Semangat
Awal dari Seorang Pemimpin. Perjalanan menghadirkan becak motor ini
dimulai pada Tahun 2023, saat Dr. Hadi Rafitra baru saja ditugaskan
sebagai Kepala MIN 9 Asahan. Dengan semangat besar, ia datang membawa
tekad untuk menghadirkan perubahan nyata bagi pendidikan anak-anak
pesisir yang selama ini terhambat akses, fasilitas, dan keterbatasan
sarana pendukung.
Setibanya di madrasah,
Hadi Rafitra langsung meninjau lingkungan sekolah serta berdialog dengan
dewan guru mengenai kondisi sosial masyarakat, akses jalan, hambatan
guru, serta tantangan transportasi siswa. Berbagai masukan tersebut
membangkitkan keprihatinan sekaligus tekadnya untuk membangun MIN 9
Asahan menjadi madrasah yang lebih maju dan layak.
Upaya
Awal Membangkitkan Minat Masyarakat. Hanya tiga bulan setelah menjabat,
Hadi Rafitra menggelar Festival Anak Sholeh (FAS) 2023 sebagai langkah
awal menarik perhatian masyarakat. Festival ini berlangsung meriah
dengan hadiah menarik bagi para juara. Bahkan, peserta yang belum
berhasil meraih juara tetap mendapatkan bingkisan dan sertifikat
penghargaan.
Meski kegiatan ini mendapat
sambutan baik dan jumlah peserta cukup banyak, minat orang tua untuk
memasukkan anaknya ke MIN 9 Asahan masih belum sesuai harapan. Dari
sinilah Hadi Rafitra menyadari bahwa persoalan yang dihadapi madrasah
jauh lebih mendasar daripada sekadar promosi kegiatan.
Banjir,
Akses Jalan, dan Tantangan Infrastruktur. Secara geografis, MIN 9
Asahan berada di wilayah pedalaman pesisir yang kerap terendam banjir
akibat hujan deras maupun air laut pasang. Kondisi ini membuat akses
menuju madrasah sulit dilalui, bahkan berisiko bagi keselamatan siswa
dan guru. Akibatnya, madrasah ini selama bertahun-tahun kurang mendapat
perhatian pembangunan karena dinilai memiliki akses yang tidak memadai.
Namun,
perjuangan tidak berhenti. Pada tahun 2024, berkat kegigihan Hadi
Rafitra dan dukungan keluarga besar MIN 9 Asahan, madrasah akhirnya
mendapatkan rehab berat sebanyak tiga ruang kelas. Perubahan tersebut
disambut dengan penuh rasa syukur oleh masyarakat sekitar.
Di
masa kepemimpinan Hadi Rafitra pula, pembangunan jembatan madrasah yang
selama ini sudah tidak layak sejak MIN 9 Asahan berdiri akhirnya dapat
terealisasi. Jembatan yang lebih kokoh dan aman ini menjadi akses vital
bagi siswa, guru, dan masyarakat dalam menuju lingkungan madrasah.
Kunjungan
Akademisi UIN Sumatera Utara dan Edukasi Kesehatan. Komitmen membangun
madrasah tidak hanya pada aspek fisik dan pendidikan formal. Pada 14
s.d. 15 November 2023, MIN 9 Asahan mendapat kunjungan dari Dekan
Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara, Prof. Dr. Mesiono,
S.Ag., M.Pd, dalam rangka Program Sosialisasi Pelaksanaan Pengabdian
Masyarakat oleh Dosen dan Mahasiswa UIN Provinsi Sumatera Utara.
Kegiatan
selama dua hari tersebut diisi dengan sosialisasi tentang stunting,
yang sangat relevan dengan kondisi masyarakat pesisir. Program ini
menambah wawasan guru, siswa, dan orang tua mengenai pentingnya
kesehatan, gizi, dan pola hidup sehat sebagai fondasi tumbuh kembang
anak.
Perjuangan Menghadirkan Jaringan
Internet. Tantangan lain yang dihadapi MIN 9 Asahan adalah keterbatasan
jaringan internet. Selama bertahun-tahun, akses internet sangat lemah
dan tidak stabil. Bahkan ketika listrik padam, seluruh jaringan
komunikasi langsung terputus.
Kondisi ini
menyulitkan pekerjaan berbasis daring. Tidak jarang operator madrasah
harus keluar dari lingkungan madrasah, mencari titik sinyal hanya untuk
mengirim data atau mengerjakan laporan. Melihat kondisi tersebut, Hadi
Rafitra berupaya keras menjalin komunikasi dengan berbagai pihak hingga
akhirnya jaringan internet bisa masuk ke MIN 9 Asahan, meskipun dengan
segala keterbatasan.
Tonggak Sejarah: ANBK
Perdana di MIN 9 Asahan. Upaya peningkatan mutu pendidikan juga
ditandai dengan keberhasilan melaksanakan Asesmen Nasional Berbasis
Komputer (ANBK) secara mandiri untuk pertama kalinya pada tahun 2023.
Sebelumnya, selama bertahun-tahun MIN 9 Asahan harus menumpang
pelaksanaan ANBK di MTsN 2 Kisaran.
Keberhasilan
ini menjadi tonggak sejarah sekaligus bukti bahwa MIN 9 Asahan mampu
berkembang dan melaksanakan program nasional secara mandiri di bawah
kepemimpinan Hadi Rafitra.
Identitas dan
Lingkungan Madrasah yang Lebih Layak. Pada tahun yang sama, plank nama
MIN 9 Asahan juga akhirnya dibuat dan dipasang. Hal ini menjadi simbol
identitas dan keberadaan madrasah yang selama ini kurang dikenal
masyarakat luas.
Selain itu, halaman
madrasah yang sebelumnya selalu tergenang air dan banjir saat hujan,
berhasil diperbaiki. Alhamdulillah, kini halaman tersebut sudah layak
digunakan dan menjadi pusat berbagai kegiatan, seperti pentas seni,
kegiatan keagamaan, serta pembiasaan membaca Al-Qur’an dan Surah Yasin
setiap hari Jumat.
Transportasi Siswa:
Masalah Terbesar yang Menyentuh Hati. Meski berbagai kemajuan telah
dicapai, persoalan terbesar belum sepenuhnya teratasi, yaitu
transportasi siswa. Hadi Rafitra pun turun langsung ke lapangan,
mendatangi PAUD dan TK sekitar bersama para guru untuk mendengar
langsung keluhan orang tua.
Dari pertemuan
tersebut, terungkap kisah yang menyentuh hati. Para wali murid
menyampaikan bahwa mereka sangat ingin anaknya bersekolah di madrasah,
namun terkendala: • Jalan rusak dan jarak yang jauh, • Banjir serta pasang air laut yang sering menutup akses, • Orang tua tidak dapat mengantar jemput karena harus bekerja (suami melaut sejak malam, istri bekerja pagi hari), • Kekhawatiran besar akan keselamatan anak, terlebih pernah terjadi musibah anak tenggelam saat banjir.
Amanah
dan Kolaborasi Kebaikan. Setelah melakukan evaluasi dan bermunajat
kepada Allah SWT, pertolongan datang dari arah yang tidak disangka.
Suami dari Alm. Wiwik Purwanti, S.Pd.I, guru MIN 9 Asahan yang telah
wafat, menyampaikan infak untuk pembelian becak motor. Amanah tersebut
diserahkan melalui Hadi Rafitra untuk mendukung transportasi siswa.
Dengan
penuh haru, Hadi Rafitra bersama dewan guru bergerak mencari becak
motor yang layak dan kuat. Rotasi Jabatan, Perjuangan Tak Terputus. Pada
30 Oktober 2025, masa tugas Hadi Rafitra sebagai Kepala MIN 9 Asahan
berakhir karena rotasi jabatan. Namun beliau menegaskan:
“Walaupun
saya tidak lagi bertugas di sini secara administrasi, saya tetap akan
membantu untuk memajukan MIN 9 Asahan jika dibutuhkan.” Pernyataan
ini menjadi penyemangat besar bagi seluruh guru dan staf. Negosiasi dan
Sinergi Dua Kepala Madrasah. Proses pembelian dilanjutkan oleh
Alimuddin, S.Pd.I bersama guru-guru Tien Suhaila, S.Pd.I, Irmayanti
Ernita, S.Pd, dan Sri Rahmawati Sinaga, S.Pd.I. Setelah negosiasi, dana
yang tersedia ternyata belum mencukupi.
Tanpa
ragu, Alimuddin menghubungi dua pemimpin: Dr. Hadi Rafitra Hasibuan dan
Syahrial, S.Pd.I selaku Kepala MIN 9 Asahan yang baru. Keduanya
langsung memberikan tambahan dana. Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa
estafet kepemimpinan tidak memutus perjuangan.
Becak
Motor Siap Beroperasi. Alhamdulillah, becak motor akhirnya berhasil
dibeli dan siap digunakan mulai semester baru. Sarana ini diharapkan
menjadi solusi nyata atas hambatan pendidikan anak-anak pesisir. Tanggapan Para Pihak 1. Dr. H. Hadi Rafitra Hasibuan, S.Ag., M.A “Becak motor ini bukan hanya kendaraan, tetapi amanah dan wujud kasih sayang kita kepada anak-anak pesisir.” 2. Syahrial, S.Pd.I (Kepala MIN 9 Asahan) “Ini adalah buah dari perjuangan panjang dan kolaborasi semua pihak.” 3. Alimuddin, S.Pd.I “Saya menyaksikan sendiri proses panjang ini. Kebersamaan adalah kuncinya.” 4. Toyba Rizqoh, S.Sos (Dewan Guru) “Semoga ini menjadi awal perhatian yang lebih besar bagi MIN 9 Asahan.”
Harapan
untuk Masa Depan. Kehadiran becak motor ini diharapkan menjadi pemantik
perhatian pemerintah terhadap kondisi madrasah, khususnya perbaikan
akses jalan. Perjuangan panjang MIN 9 Asahan menjadi bukti bahwa ketika
kepedulian, doa, dan usaha bersatu, Allah SWT akan menghadirkan jalan
terbaik bagi pendidikan anak-anak pesisir. (fa)