Semakin Mencintai Devosi Rosario, Bimas Katolik Kemenag Asahan Bina Warga Binaan Lapas Labuhan Ruku
Asahan (Humas BimKat). Plt. Kepala Penyelenggara Bimas Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Asahan, Alb Irawan Dwiatmaja bersama Penyu...
Loading...
Asahan (Humas BimKat).
Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kab. Asahan, Alb Irawan
Dwiatmaja, M.Fil. melakukan penyuluhan kepada kelompok binaan yaitu Bina Iman
Remaja Katolik UPTD SMP Negeri 2 Pulau Rakyat Desa Padang Mahondang di halaman pada
Jumat, 14 Februari 2025.
Tema penyuluhan yaitu Geng
Motor Anarkis. Fenomena geng motor anarkis bukanlah sekadar masalah
kriminalitas, melainkan gejala dari permasalahan sosial dan ekonomi yang lebih
dalam. Kemiskinan, pengangguran, kurangnya pendidikan, dan ketidakadilan sosial
menciptakan lingkungan yang subur bagi tumbuhnya rasa frustrasi, alienasi, dan
hilangnya harapan di kalangan generasi muda. Mereka mencari identitas, rasa
memiliki, dan pengakuan dalam kelompok yang seringkali menjurus pada tindakan
anarkis.
Ketidakmampuan keluarga
dan masyarakat untuk memberikan dukungan moral dan spiritual juga berkontribusi
pada masalah ini. Anak-anak muda yang tumbuh dalam keluarga yang disfungsional
atau lingkungan yang penuh kekerasan rentan terhadap pengaruh negatif dari geng
motor. Selain itu, kurangnya akses terhadap pendidikan berkualitas dan
pelatihan keterampilan membuat mereka sulit mendapatkan pekerjaan yang layak,
sehingga semakin memperkuat lingkaran kemiskinan dan kriminalitas.
Penyuluh yang akrab disapa
Wawan mengatakan, “Pengaruh media dan budaya populer yang mengagungkan
kekerasan dan gaya hidup hedonis juga memainkan peran penting. Geng motor
seringkali digambarkan sebagai simbol pemberontakan dan kebebasan, yang menarik
bagi anak-anak muda yang merasa terpinggirkan dan tidak memiliki masa depan
yang jelas. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan holistik yang mengatasi akar
masalah sosial dan ekonomi untuk mencegah dan menanggulangi kekerasan geng
motor.”
“Dari sudut pandang etika
Katolik, tindakan anarkis geng motor merupakan pelanggaran serius terhadap
hukum Allah dan hukum manusia. Tindakan kekerasan, perusakan, dan intimidasi
yang dilakukan oleh geng motor melanggar martabat manusia, merusak tatanan sosial,
dan menghalangi upaya untuk menciptakan masyarakat yang adil dan damai”, lanjut Wawan.
Wawan menekankan, “Etika
Katolik mengajarkan bahwa setiap tindakan harus dinilai berdasarkan tiga
faktor: objek tindakan, niat pelaku, dan keadaan yang menyertai tindakan. Objek
tindakan anarkis geng motor jelas jahat, karena melibatkan kekerasan,
perusakan, dan intimidasi. Niat pelaku mungkin bervariasi, mulai dari mencari
sensasi dan pengakuan hingga melampiaskan rasa frustrasi dan kemarahan. Namun,
niat yang baik tidak dapat membenarkan tindakan yang jahat.”
Keadaan yang menyertai
tindakan juga harus dipertimbangkan. Kemiskinan, pengangguran, kurangnya
pendidikan, dan ketidakadilan sosial dapat mengurangi tanggung jawab moral
pelaku, tetapi tidak dapat membenarkan tindakan kekerasan. Etika Katolik
menekankan bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab untuk bertindak sesuai
dengan hati nurani mereka dan menghormati hak-hak orang lain.
Oleh karena itu, tindakan
anarkis geng motor tidak dapat dibenarkan dari sudut pandang etika Katolik.
Namun, etika Katolik juga menuntut kita untuk melihat setiap anggota geng
sebagai manusia yang memiliki martabat yang sama dengan kita, serta untuk berusaha
memahami akar masalah yang mendorong mereka melakukan tindakan kekerasan. Kita
juga harus bekerja untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan inklusif,
di mana setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil.
Wawan menyimpulkan, “Gereja
Katolik dipanggil untuk menjadi agen perdamaian dan harapan di dunia, terutama
bagi mereka yang terpinggirkan dan terlupakan. Fenomena geng motor anarkis
merupakan tantangan yang serius, tetapi juga merupakan kesempatan bagi Gereja
untuk mewujudkan misinya sebagai saksi kasih Kristus.”
Dengan berlandaskan pada
ajaran sosial Gereja, Kitab Suci, tradisi, dan Magisterium, Gereja dapat
berperan aktif dalam mencegah dan menanggulangi kekerasan geng motor, serta
memberikan harapan dan reintegrasi bagi anggotanya. Ini membutuhkan komitmen
yang kuat, kerja keras, dan kerja sama dengan berbagai pihak, tetapi hasilnya
akan sepadan dengan upaya yang kita lakukan.
Pada akhir penyuluhan, Wawan menegaskan, “Gereja harus terus menyuarakan kebenaran, memperjuangkan keadilan sosial, dan melayani mereka yang membutuhkan, serta menjadi teladan kasih dan perdamaian bagi semua orang. Dengan demikian, Gereja dapat menjadi terang bagi dunia dan garam bagi bumi, serta membantu membangun Kerajaan Allah di dunia ini.” (AW)
Asahan (Humas BimKat). Plt. Kepala Penyelenggara Bimas Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Asahan, Alb Irawan Dwiatmaja bersama Penyu...
Plt. Kepala Penyelenggara Bimas Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Asahan, Alb Irawan Dwiatmaja, melakukan audiensi dengan Pastor Pa...
Asahan (Humas BimKat). Plt. Kepala Penyelenggara Bimas Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Asahan, Alb Irawan Dwiatmaja, bersama deng...