Asahan (Humas BimKat). Pelaksana
Tugas (Plt.) Penyelenggara Bimas Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten
Asahan, Alb Irawan Dwiatmaja bersama dengan Penyuluh Agama Katolik, Nerisia
Ginting, S.Ag., dan Turisnawati Marbun, S.Ag. melakukan kunjungan pastoral ke RSU
Bunda Mulia, Kisaran pada Rabu (04/03/2026). Kegiatan ini bertujuan memberikan
bimbingan rohani, doa kesembuhan, dan penguatan iman kepada pasien rawat inap. Dalam
kunjungan tersebut, penyuluh tidak hanya menyampaikan doa dan penguatan iman,
tetapi juga mendengarkan keluh kesah serta memberikan motivasi agar para pasien
tetap memiliki harapan dan semangat untuk sembuh.
Menurut penyuluh agama,
pelayanan kepada orang sakit merupakan wujud nyata ajaran kasih dalam tradisi
Gereja Katolik. “Kehadiran kita, meski sederhana, diharapkan dapat menghadirkan
penghiburan dan menguatkan iman saudara-saudari kita yang sedang menderita,”
ujarnya.
Dalam ajaran Gereja
Katolik, perhatian terhadap orang sakit merupakan bagian dari karya belas kasih
(corporal works of mercy) yang diajarkan oleh Yesus Kristus. Hal ini
juga ditegaskan dalam Katekismus Gereja Katolik yang menempatkan pelayanan
kepada mereka yang lemah dan menderita sebagai perwujudan kasih Kristiani.
Bahkan, dalam berbagai kesempatan, Bapa Suci seperti Paus Fransiskus kerap
mengingatkan pentingnya budaya perjumpaan (culture of encounter), yakni
hadir secara nyata di tengah mereka yang terluka, miskin, dan sakit.
Salah satu keluarga yang
dikunjungi mengungkapkan rasa syukur atas perhatian tersebut. “Kami merasa
tidak sendirian. Kehadiran penyuluh agama memberi kekuatan tersendiri bagi anak
kami yang sedang sakit,” ungkap anggota keluarga pasien. Dengan adanya
pelayanan seperti ini, nilai-nilai kemanusiaan dan kasih semakin dihidupkan
dalam kehidupan sehari-hari. Gereja melalui para penyuluh agama berkomitmen
untuk terus hadir di tengah umat, terutama mereka yang membutuhkan perhatian
dan penguatan.
Penyuluh
mengajak keluarga untuk tetap bersatu dan saling mendukung, serta tidak
kehilangan pengharapan dalam situasi sulit. Kegiatan kunjungan orang sakit ini
diharapkan dapat terus berlanjut dan menjadi gerakan bersama umat untuk saling
peduli. Tidak hanya menjadi rutinitas keagamaan, tetapi juga menjadi wujud
konkret solidaritas sosial dan persaudaraan sejati di tengah masyarakat. (AW)