Supervisi Akademik MIN 3 Asahan, Kepala Madrasah Dorong Guru Tingkatkan Mutu Pembelajaran
Pulau Rakyat (Humas) - Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Asahan, Ummiati Nasution, S.Pd.I., M.Pd., melaksanakan kegiatan supervisi a...
Loading...
Pulau Rakyat (Humas) - Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Asahan, Ummiati Nasution, melaksanakan kegiatan pembinaan karakter secara langsung kepada tujuh orang peserta didik dari berbagai tingkatan kelas di lingkungan madrasah pada Selasa pagi (23/9). Langkah pembinaan persuasif yang dilakukan secara khusus di luar jam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) ini diterapkan sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab pimpinan untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif, tertib, serta berakhlakul karimah.
Menurut Ummiati, anak-anak usia dasar di tingkat madrasah ibtidaiyah sedang berada dalam fase pencarian identitas dan pembentukan kebiasaan. Pada usia tersebut, peserta didik tidak hanya membutuhkan pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga pendampingan yang dapat membentuk sikap, karakter, kedisiplinan, serta rasa tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, sekecil apa pun penyimpangan perilaku yang terjadi harus segera diluruskan dengan cara yang edukatif dan bijaksana.
Ummiati juga menjelaskan bahwa pembentukan karakter tidak dapat dilakukan secara instan maupun hanya melalui nasihat sesekali. Kebiasaan positif perlu ditanamkan secara konsisten melalui keteladanan, pembiasaan, pengawasan, serta komunikasi yang baik antara guru dan peserta didik. Dalam proses tersebut, guru memiliki peran penting sebagai pendidik sekaligus figur yang setiap perilaku dan tutur katanya dapat menjadi contoh bagi siswa. Lingkungan madrasah pun harus mampu menghadirkan suasana yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak, sehingga setiap siswa merasa dihargai sekaligus diarahkan ketika menghadapi persoalan dalam perilakunya.
"Kita tidak bisa hanya mengandalkan proses transfer ilmu di dalam kelas saja. Pembinaan karakter adalah kunci utama pendidikan di madrasah, dan itu membutuhkan sentuhan langsung, pengorbanan waktu, serta kepedulian dari kita semua," tegas Ummiati
Lebih lanjut, Ummiati Nasution menekankan bahwa pembinaan terhadap siswa hendaknya tidak dimaknai sebagai bentuk hukuman, melainkan sebagai bagian dari proses mendidik dan mengarahkan mereka agar mampu memahami konsekuensi dari setiap tindakan yang dilakukan. Pendekatan yang humanis, dialogis, dan penuh keteladanan dinilai penting agar siswa tidak merasa dihakimi, tetapi justru terdorong untuk menyadari kesalahannya dan berusaha memperbaiki diri.
Dikesempatan itu juga, Ummiati menerangkan bahwa keberhasilan pendidikan di madrasah pada akhirnya tidak hanya diukur dari capaian nilai akademik, tetapi juga dari sejauh mana peserta didik mampu menunjukkan akhlak yang baik, menghormati orang lain, menaati aturan, bertanggung jawab, serta membawa nilai-nilai kebaikan yang diperoleh di madrasah ke lingkungan keluarga dan masyarakat.Menurut Ummiati, anak-anak usia dasar di tingkat madrasah ibtidaiyah sedang berada dalam fase krusial pencarian identitas dan pembentukan kebiasaan. Oleh karena itu, sekecil apa pun penyimpangan perilaku yang terjadi harus segera diluruskan dengan cara yang edukatif dan bijaksana.
"Kita tidak bisa hanya mengandalkan proses transfer ilmu di dalam kelas saja. Pembinaan karakter adalah kunci utama pendidikan di madrasah, dan itu membutuhkan sentuhan langsung, pengorbanan waktu, serta kepedulian dari kita semua," terang Ummiati saat memberikan arahannya.
Suasana pembinaan berlangsung dengan penuh kekeluargaan namun tetap menyisipkan ketegasan pada aturan madrasah. Ketujuh siswa tampak duduk dengan tenang dan mendengarkan dengan saksama setiap nasihat yang disampaikan oleh Kepala Madrasah. Beberapa siswa bahkan terlihat menunduk haru saat diajak merenungkan kesalahan dan dampak dari perbuatan mereka terhadap orang tua di rumah serta masa depan mereka sendiri. Momen refleksi ini menjadi titik tolak kebangkitan kesadaran dari dalam diri masing-masing siswa tersebut.
Ummiati kembali mengingatkan bahwa madrasah adalah tempat untuk menyemai dan memupuk akhlakul karimah. Siswa madrasah tidak hanya dituntut untuk cerdas secara pengetahuan umum, tetapi juga harus memiliki kecerdasan spiritual dan adab yang unggul. Bagi siswa yang bermasalah dengan kedisiplinan, Ummiati memberikan pemahaman mendalam tentang pentingnya menghargai waktu dan aturan sekolah. Sementara bagi siswa yang mengalami masalah pertemanan, ditanamkan nilai-nilai empati, saling menghargai, dan persaudaraan.
"Madrasah adalah tempat untuk menyemai dan memupuk akhlakul karimah. Karena itu, siswa madrasah tidak cukup hanya memiliki kecerdasan dalam pengetahuan umum, tetapi juga harus tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kecerdasan spiritual, berakhlak mulia, dan mampu menerapkan adab yang baik dalam kehidupan sehari-hari, setiap persoalan yang dihadapi siswa perlu mendapatkan pendekatan pembinaan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mereka”, jelasnya.
Setelah proses dialog dan bimbingan intensif tersebut selesai, ketujuh peserta didik diminta untuk merenung dan membuat komitmen perbaikan diri. Mereka secara sadar berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Keberhasilan dari pembinaan karakter ini tentu tidak bisa dilepaskan dari sinergi seluruh elemen madrasah. Ummiati langsung menginstruksikan kepada para wali kelas untuk terus memantau perkembangan perilaku ketujuh siswa tersebut pasca-pembinaan. (Wh)
Pulau Rakyat (Humas) - Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Asahan, Ummiati Nasution, S.Pd.I., M.Pd., melaksanakan kegiatan supervisi a...
Pulau Rakyat (Humas) - Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Asahan, Ummiati Nasution, melaksanakan kegiatan pembinaan karakter secara l...
Pulau Rakyat (Humas) – Suasana berbeda tampak di halaman Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Asahan, Rabu (23/9). Ratusan siswa dari berbagai...