Loading...

  • Kamis, 07 Mei 2026

Siswa Kelas III A MIN 3 Asahan Eksplorasi Bentang Alam dengan Metode Deep Learning

Guru kelas 3 A sedang memantau dan memberikan bimbingan kepada seluruh siswa saat berjalannya diskusi

Pulau Rakyat (Humas) - Sebanyak 28 siswa kelas III A Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Asahan mengikuti pembelajaran materi Ragam Bentang Alam dengan metode diskusi kelompok berbasis deep learning pada Rabu pagi (07/05). Kegiatan belajar dilaksanakan di lokasi belajar sementara karena gedung madrasah sedang dalam proses renovasi. Tujuan pembelajaran ini diterapkan untuk menciptakan pemahaman sains yang lebih mendalam dan bermakna melalui pendekatan partisipatif yang mendorong siswa berpikir kritis serta aktif memecahkan masalah.

Berdasarkan pantauan Tim Humas MIN 3 Asahan, Guru Kelas III A, Sri Ivo Lestari, memulai kegiatan dengan permainan tebak-tebakan dan pertanyaan pemantik untuk membangun rasa ingin tahu siswa. Salah satu persoalan yang dibahas adalah penyebab air sungai menjadi keruh. Dari pertanyaan tersebut, siswa diajak menganalisis keterkaitan antara bentang alam dan kondisi lingkungan sekitar. Dalam proses belajar, siswa dibagi ke dalam kelompok heterogen agar dapat saling bertukar pendapat dan belajar melalui tutor sebaya. Metode ini membuat siswa tidak hanya menghafal nama-nama bentang alam, tetapi juga memahami proses terbentuknya gunung, sungai, dan berbagai fenomena alam lainnya.

Kepala MIN 3 Asahan, Ummiati Nasution, S.Pd.I., M.Pd., menyampaikan dukungannya terhadap penerapan metode deep learning di lingkungan madrasah. Menurutnya, inovasi pembelajaran harus terus dilakukan demi membangun kemampuan berpikir siswa sejak usia dini.

“Kami ingin siswa tidak hanya sekadar menghafal definisi, tetapi benar-benar memahami proses alam secara mendalam. Semangat inovasi tidak boleh luntur meskipun pembelajaran sementara dilakukan di ruang belajar darurat,” ujarnya dilokasi berbeda.

Selama diskusi berlangsung, guru berperan sebagai pendamping yang memberikan pertanyaan pemantik tanpa langsung memberikan jawaban. Siswa didorong untuk menemukan konsep secara mandiri, menyampaikan pendapat, serta mempertahankan argumen berdasarkan hasil pengamatan dan data sederhana.

Salah satu siswa, Lashira Ghassani, tampak aktif mengikuti jalannya diskusi bersama kelompoknya. Dengan penuh semangat, ia menyampaikan pendapat dan menjawab pertanyaan yang diberikan guru maupun teman-temannya. Lashira mengaku lebih mudah memahami materi melalui kegiatan diskusi karena dapat saling bertukar penjelasan dengan teman sebaya.

“Kalau dijelaskan teman, kadang lebih mudah dipahami daripada hanya membaca buku. Saat diskusi kami bisa saling bertanya dan memberi contoh, jadi pelajarannya terasa lebih seru dan tidak membosankan. Saya juga jadi lebih berani menyampaikan pendapat di depan teman-teman,” ungkap Lashira Ghassani dengan penuh semangat.

Dikesempatan itu juga, Sri Ivo Lestari, menyampaikan bahwa metode deep learning tidak hanya membantu siswa memahami materi dengan lebih baik, tetapi juga memperkuat daya ingat karena siswa terlibat langsung dalam proses menemukan konsep pembelajaran. Menurutnya, kegiatan presentasi hasil diskusi antarkelompok yang berlangsung aktif dan penuh semangat menjadi bukti bahwa siswa mampu berpikir kritis dan percaya diri dalam menyampaikan pendapat.

Sebelum mengakhiri pernyataannya, Sri Ivo Lestari juga menegaskan bahwa penilaian pembelajaran tidak lagi berfokus pada ujian tulis semata, melainkan mencakup kemampuan berpikir logis, kerja sama tim, serta keberanian siswa dalam berdiskusi.

“Melalui metode ini, kami berharap dapat membentuk generasi yang kritis, kreatif, dan peduli terhadap lingkungan sejak usia dasar,” ujar wanita lulusan CPNS tahun 2019 tersebut. (Wh)

Tentang Penulis
Penulis di Kemenag Asahan Sejak 21 October 2024
Lihat Semua Post