Loading...

  • Sabtu, 10 Oktober 2026

Penyuluh Katolik: Meningkatkan Budaya Literasi untuk Remaja

Penyuluhan kepada kelompok binaan

Asahan (Humas BimKat). Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kab. Asahan, Alb Irawan Dwiatmaja, M.Fil. melakukan penyuluhan kepada kelompok binaan yaitu Bina Iman Remaja Katolik UPTD SMP Negeri 2 Pulau Rakyat Desa Padang Mahondang di salah satu ruangan pada Kamis, 13 Februari 2025.

 

Tema penyuluhan yaitu Meningkatkan Budaya Literasi untuk Remaja. Di era digital saat ini, informasi tersebar luas dengan cepat melalui berbagai media. Remaja sebagai generasi yang aktif dalam dunia digital sering kali terpapar banyak tulisan, baik yang bersifat edukatif maupun yang menyesatkan. Oleh karena itu, penting bagi mereka untuk memiliki kemampuan literasi yang baik agar dapat menganalisis setiap tulisan dengan kritis dan objektif. Literasi tidak hanya sebatas kemampuan membaca, tetapi juga mencakup pemahaman, analisis, dan penerapan informasi secara bijak.

 

Penyuluh yang akrab disapa Wawan mengatakan tiga (3) poin pentingnya literasi bagi remaja yaitu “(1) membantu berpikir kritis. Literasi yang baik memungkinkan remaja untuk tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga menganalisis kebenaran dan relevansinya. Dengan begitu, mereka dapat membuat keputusan yang lebih bijak dalam berbagai aspek kehidupan, (2) meningkatkan daya analisis. Remaja yang terbiasa membaca dan mengkaji berbagai tulisan akan lebih terampil dalam memahami konteks dan maksud dari sebuah teks. Kemampuan ini sangat penting, baik dalam pendidikan maupun dalam kehidupan sosial, (3) menumbuhkan kreativitas dan wawasan. Membaca berbagai jenis tulisan, seperti buku, artikel, dan jurnal ilmiah, dapat memperkaya wawasan dan inspirasi bagi remaja dalam berkarya.

 

“Strategi Meningkatkan Budaya Literasi yaitu (a) mendorong kebiasaan membaca dengan menyediakan akses mudah ke buku dan sumber bacaan berkualitas, mengadakan program membaca seperti klub buku atau tantangan literasi. (b) Mengajarkan teknik analisis teks dengan menggunakan metode seperti membaca kritis, diskusi kelompok, dan refleksi tertulis, menganalisis berita atau artikel dengan mempertimbangkan sumber dan kredibilitasnya. (c) Memanfaatkan teknologi secara bijak dengan mendorong penggunaan platform digital yang mendukung literasi, seperti perpustakaan digital atau jurnal akademik, mengajarkan cara membedakan informasi yang valid dari yang menyesatkan”, jelas Wawan.


Pada akhir penyuluhan, Wawan menegaskan, “Budaya literasi yang kuat akan membantu remaja menjadi individu yang lebih kritis, kreatif, dan bijaksana dalam menghadapi dunia yang penuh dengan informasi. Oleh karena itu, peran keluarga, sekolah, dan masyarakat sangat dibutuhkan dalam membangun kebiasaan literasi yang positif bagi generasi muda.” (AW)

Tentang Penulis
Penulis di Kemenag Asahan Sejak 15 May 2024
Lihat Semua Post