Loading...

  • Selasa, 05 Mei 2026

MIN 3 Asahan Gelar Shalat Tasbih Berjamaah di Masjid Al-Hidayah

Para siswa sedang mendengarkan tausiyah agama yang disampaikan oleh salah seorang guru agama MIN 3 Asahan (foto: waroh)

Pulau Rakyat (Humas) – Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Asahan menggelar ibadah shalat tasbih berjamaah di Masjid Al-Hidayah, Desa Pulau Rakyat Tua, Kecamatan Pulau Rakyat, pada Selasa pagi, (10/03). Kegiatan yang diikuti oleh seluruh siswa kelas 4 hingga 6 ini bertujuan untuk memperkuat spiritualitas siswa serta memberikan pemahaman praktis mengenai ibadah sunnah yang memiliki keutamaan besar dalam Islam.

Sebelum rangkaian ibadah dimulai, para siswa diberikan pembekalan khusus mengenai teknis pelaksanaan agar shalat berjalan sesuai tuntunan syariat. Guru Bidang Studi Al-Qur'an Hadis, Wahyudi, mengambil peran utama dengan memberikan penjelasan mendalam mengenai tata cara shalat tasbih.

Wahyudi berdiri di hadapan para siswa untuk memastikan setiap gerakan dan bacaan tasbih dipahami dengan benar. Dalam penjelasannya, ia menekankan pentingnya menghitung jumlah tasbih pada setiap rukun shalat agar jumlahnya genap sesuai sunnah Rasulullah SAW.

Wahyudi menjelaskan bahwa shalat tasbih memiliki urutan yang berbeda dari shalat sunnah biasa karena adanya tambahan bacaan Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar di setiap pergerakan gerakan. Ia mengingatkan siswa agar tidak terburu-buru dalam melafalkan kalimat thayyibah tersebut.

“Anak-anak sekalian, shalat tasbih ini adalah sarana kita memohon ampunan Allah. Pastikan kalian membaca tasbih sebanyak 15 kali setelah membaca surat di rakaat pertama, dan 10 kali pada setiap gerakan berikutnya seperti ruku, i’tidal, hingga sujud,” ujar Wahyudi dalam Arahnya secara langsung.

Setelah sesi penjelasan teknis selesai, seluruh peserta bangkit untuk menunaikan shalat tasbih berjamaah. Para guru mendampingi di barisan syaf untuk memastikan kekhusyukan dan menyelamatkan para siswa selama proses ibadah yang memakan waktu cukup lama tersebut berlangsung.

Usai salam penutup, suasana masjid tetap tenang untuk melanjutkan agenda berikutnya, yakni tausyiah agama. Wahyudi kembali tampil dihadapan para siswa untuk memberikan siraman rohani yang bertemakan hikmah puasa bagi umat Islam di sela-sela kegiatan praktik ibadah.

Dalam tausyiahnya, Wahyudi mengangkat pemikiran Imam Al-Ghazali mengenai klasifikasi orang yang berpuasa. Ia menjelaskan bahwa tidak semua orang yang menahan lapar dan dahaga mendapatkan derajat pahala yang sama di sisi Allah SWT.

Tingkatan pertama yang dijelaskan adalah Puasa Awam, yakni puasa yang hanya sekedar menahan diri dari makan, minum, dan hubungan biologis. Wahyudi menyebutkan bahwa ini adalah tingkatan dasar yang paling banyak dilakukan orang pada umumnya tanpa menjaga esensi batin.

Tingkatan kedua adalah Puasa Khusus, di mana seseorang tidak hanya menahan lapar, tetapi juga menjaga panca indera dari perbuatan dosa. Wahyudi menekankan bahwa pada tahap ini, mata, telinga, dan lisan juga ikut "berpuasa" dari hal-hal yang tidak bermanfaat atau menyakiti orang lain.

Terakhir, ia menjelaskan tentang Puasa Khusus al-Khusus, yaitu tingkatan tertinggi di mana hati dan pikiran seseorang sepenuhnya tertuju kepada Allah. Pada level ini, puasa dianggap batal jika hati sedikit saja diubah atau memikirkan urusan duniawi yang melalaikan dari mengingat Sang Pencipta.

Kepala MIN 3 Asahan, Ummiati Nasution, mengungkapkan melalui sambungan telepon bahwa perencanaan kegiatan ini telah digodok matang oleh panitia sejak jauh hari. Hal ini dilakukan untuk memastikan tidak ada kendala teknis meskipun dia tidak berada di tempat.

“Perencanaan kegiatan di Masjid Al-Hidayah ini sudah kami siapkan dengan teliti agar tetap berjalan maksimal. Meski saya sedang dinas luar, saya telah mengidentifikasi tim agar pengawasan terhadap kekhusyukan siswa tetap menjadi prioritas utama,” kata Ummiati Nasution.

Ummiati juga memberikan evaluasi terhadap penyelenggaraan acara berdasarkan laporan foto dan video yang diterimanya. Ia menilai bahwa pemilihan lokasi di luar lingkungan madrasah karena lokasi belajar utama sedang asyik, selain itu hal ini merupakan langkah tepat untuk menyegarkan suasana belajar siswa agar tidak jenuh.

Namun, ia juga menyampaikan poin evaluasi terkait manajemen waktu. Ummiati berpesan agar di masa mendatang durasi antara penjelasan tata cara dan pelaksanaan shalat bisa lebih dipersingkat agar siswa tidak kelelahan sebelum shalat dimulai.

"Evaluasi saya untuk memperjelas adalah efisiensi waktu, namun secara keseluruhan saya bangga melihat dokumentasi para siswa yang sangat khidmat. Ini membuktikan bahwa sistem koordinasi guru-guru kami berjalan sangat solid," tambah Ummiati saat dihubungi melalui telepon. (Wh)

Tentang Penulis
Penulis di Kemenag Asahan Sejak 21 October 2024
Lihat Semua Post