Kisaran (Humas) Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 10 Asahan. Tim tari madrasah ini sukses tampil memukau dalam ajang Perlombaan Tari Etnis Tabagsel yang digelar dalam rangka Pagelaran Seni dan Budaya Daerah (PSBD) Kabupaten Asahan 2025, yang berlangsung sejak 9 hingga 16 Oktober 2025.
Lomba yang mempertemukan berbagai sekolah dan sanggar seni dari seluruh penjuru Asahan ini menjadi ajang bergengsi dalam memperkenalkan kekayaan budaya etnis, khususnya Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel), yang meliputi daerah Mandailing, Angkola, Sipirok, Padang Lawas, dan sekitarnya.
Tim tari MIN 10 Asahan menampilkan tari kreasi Tabagsel yang memadukan gerakan tradisional khas Mandailing dengan sentuhan kreasi modern, tanpa meninggalkan nilai filosofis dan adat budaya yang kental. Tarian yang dibawakan berjudul “Sitogol” ini berhasil menarik perhatian dewan juri dan para penonton dengan koreografi yang anggun, kekompakan, serta kostum yang menggambarkan identitas budaya Tabagsel.
Kepala MIN 10 Asahan, Sartiji, S.Pd.I.,M.M mengungkapkan rasa bangga dan haru atas partisipasi anak didiknya dalam ajang bergengsi ini.
“Kami sangat mengapresiasi semangat dan kerja keras tim tari yang telah berlatih dengan sungguh-sungguh. Keterlibatan mereka dalam lomba ini adalah bagian dari pembelajaran seni dan budaya yang bernilai tinggi. Ini bukan sekadar kompetisi, tetapi juga media untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal,” ujarnya.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin (P5RA)yang dilaksanakan di MIN 10 Asahan, dengan tema: "Mencintai Budaya, Menjaga Warisan Bangsa".
Pelatih tari, Nina Adelya S.Pd, menjelaskan bahwa proses latihan dilakukan selama lebih dari satu bulan dengan melibatkan siswa-siswi dari kelas 5 yang memiliki minat dan bakat di bidang seni tari.
“Kami mengajarkan kepada anak-anak bahwa menari bukan hanya soal gerakan, tetapi juga soal memahami makna budaya, menghargai warisan leluhur, dan membangun kepercayaan diri dalam berekspresi,” terang beliau.
Selain penampilan tari, para siswa juga diajak untuk mengunjungi stan-stan budaya etnis lain di arena PSBD, sehingga mereka tidak hanya tampil, tetapi juga belajar dan mengenal keberagaman budaya di Kabupaten Asahan.
Para orang tua siswa memberikan dukungan penuh atas keterlibatan anak-anak mereka.
“Kami sangat mendukung kegiatan ini. Anak-anak jadi lebih percaya diri dan semakin mencintai budaya sendiri. Ini penting di tengah era digital yang serba instan,” ujarnya.
Ajang PSBD ini menjadi panggung istimewa bagi siswa madrasah untuk menunjukkan bahwa pendidikan madrasah tidak hanya unggul dalam bidang akademik dan keagamaan, tetapi juga mampu bersaing dan berprestasi di bidang seni dan budaya.
Dengan keikutsertaan dalam lomba tari etnis Tabagsel ini, MIN 10 Asahan menegaskan komitmennya sebagai madrasah yang mendidik dengan hati, membentuk karakter, dan menumbuhkan cinta terhadap budaya bangsa.(na)